Tuesday, October 25, 2011

Ayam ras petelur

Ayam rasa petelur adalah jenis-jenis ayam yang sangat efesien, diternakkan sebagai penghasil telur. Ciri-ciri umumnya, badan relatif kecil  dan berbentuk langsing. Karena badannya kecil, ayam ini sifatnya lincah dan mudah kaget (Suharno dan Nasruddin, 1994).

Rasyaf (1996) mengemukakan bahwa usaha ternak ayam ras petelur di indonesia secara komersial belum banyak dilakukan, tetapi telah menghasilkan suatu perkembangan populasi ternak ayam yang pesat baik petelur maupun pedaging. Perkembangan populasi ternak ayam ras  yang paling menggembirakan adalah ternak ayam ras petelur.

Berternak ayam petelur mempunyai prospek yang cukup baik untuk masa mendatang, karena kebutuhan akan sumber protein semakin meningkat. Oleh karena itu pemeliharaannya harus lebih di perhatikan  terutama dalam pemberian makanan, vaksinasi serta penggunaan obat-obatan yang dicampur dengan makanan dan minuman (Djanah, 1985).

Usaha peternakan ayam ras petelur telah berkembang sangat pesat, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain meningkatkan efesiensi usaha ayam ras petelur akibat meningkatnya keterampilan peternak dalam menerapkan teknologi maju, adanya dorongan dan pembinaan pemerintah. Semakin meningkatnya permintaan komoditi telur, serta pesatnya perkembangan perusahaan pembibitan ayam, pabrik makanan ternak serta obat-obatan di dalam negeri  (Yassin dan indarsih1988).

Usaha peternakan ayam ras petelur merupakan kegiatan indusrtri biologi, dimana keberhasilan ditentukan oleh pengadaan sarana produksi, bibit, makanan ternak serta ketepatan manajemen dan usaha kelancara pemasaran  hasil produks. Namun demikian komponen pakan ternak memegang peranan penting dalam menjamin kelangsungan hidup suatu usaha (Rsyaf, 1996).

Dilanjutkan kembali oleh rasyaf (1996) yang menyatakan bahwa ayam ras petelur dikenal dua macam, petelur kulit cokelat dan kulit putih. Keduanya sebenarnya sama dan kandungan gizinya pun relatife sama, yang berbeda hanyalah dari sudut pandang  pembeli yang menganggap telur warna cokelat lebih menarik, lebih besar, dan lebih enak sekalipun ini tidak terbukti. Masalah enak atau tidak enak tentu  harus melalui pengujian rasa yang sifatnya relatif. Namun akibatnya dari pandangan pembeli itulah menyebabkan telur ayam ras cokelat lebih banyak permintaannya.
Menurut Sudarmono (2003) ayam ras petelur  mempunyai sifat-sifat unggul  yaitu sebagai berikut :
  1. Laju pertumbuhan ayam ras petelur sangat pesat pada umur  4,5-5,0 bulan telah mencapai kedewasaan kelamin dan bobot badan antara 1,6 kg-1,7 kg, pada waktu itu sebagian dari kelompok ayam tersebut telah berproduksi. Adapun ayam kampung pada umur yang sama, bobot badannya baru mencpai sekitar 0,8 kg kedewasaan kelamin ayam kampung baru dicapai pada umur 7-8 bulan.
  2. Kemampuan berproduksi ayam ras petelur cukup tinggi yaitu antara 250-280 butir/tahun, dengan bobot telur antara 50-60 g/butir. Sedangkan produksi  ayam kampung hanya berkisar antara 30-40 g/butir  
  3. Kemampuan ayam ras petelur dalam memanfaatkan ransum pakan sangat baik dan berkorelasi positif. Konversi terhadap penggunaan ransum cukup bagus yaitu setiap 2,2 kg -2,5 kg ransum dapat menghasilkan 1 kg telur. Dalam hal ini, ayam kampung tidak memiliki korelasi positif dalam memanfatkan ransum  yang baik dan mahal. Oleh karena itu, ayam kampung lebih ekonomis bila diberi pakan yang murah.
  4. Periode bertelur ayam ras petelur lebih panjang, bisa berlangsung 13-14 bulan, atau hingga ayam berumur 19-29 bulan, walaupun ayam ras hanya mengalami satu periode bertelur, akan tetapi periode bertelurnya tersebut berlangsung sangat panjang dan produktif. Hal ini disebabkan karena tidak adanya periode mengeram pada ayam ras petelur tersebut. Sedangkan ayam kampung mengalami periode bertelur berkali-kali, namun satu periode bertelurnya berlangsung sangat pendek, yaitu sekitar 15 hari . periode bertelur ayam kampung terputus-putus, karena ayam kampung memiliki sfat atau periode mengeram.
Dilanjutkan kembali oleh Sudarmono (2003) mengenai kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh ayam ras petelur, yaitu sebagai berikut :
  1. Ayam ras petelur sangat peka terhadap lingkungan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan lebih rendah bila dibandingkan dengan ayam kampung. Ayam ras petelur lebih mudah mengalami stress.
  2. Tuntutan hidup ayam ras petelur tinggi yaitu selalu menuntut pakan dalam jumlah dan kualitas yang tinggi air minum yang cukup, dan menggantungkan diri sepenuhnya pada peternak. Sehingga dengan demikian ayam ras petelur tidak cocok diternakan secara ektensif 
  3. Memiliki sifat kanibalisme yang lebih tinggi dari pada ayam kampung, walaupun secara umum ayam ras memiliki beberapa keunggulan, akan tetapi jika kita membeli bibit ayam ras tersebut, tetap harus diteliti terlebih dahulu.  
Usaha mengembangkan ternak ayam ras petelur di Indonesia memilik prospek yang lebih baik, terutama ditinjau dari aspek masyarakat  akan kebutuhan gizi. Sesuai standar nasional, komsumsi protein per hari per kapita  ditetapkan 55 g yang terdiri atas 80 % proten nabati dan 20 % protein hewani. Pemenuhan akan gizi ini khususnya protein hewani dapat diperoleh dari protein telur. Sehingga dengan demikian  usaha ternak ayam petelur memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan. (Sudarmono, 2003)
Menurut  Sudarmono (2003) menyatakan bahwa keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur akan semakin mudah dicapai mengingat banyaknya faktor penunjang atau pendukung di Indonesia, faktor-faktor pendukung keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur, antara lain sebagai berikur:
  • Tersedianya bahan baku pakan ternak berupa jagung dan hasil ikutan produk pertanian, misalnya bekatul, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, bungkil kacang kedelai dan sebagainya
  • Semakin berkenbangnya pabrik makanan terhadap siap pakai dan obat-obatan yang semakin tersebar diberbagai profinsi 
  • Semakin berkembangnya industri pembibitan ayam berupa  ayam-ayam parent stock atau grad parent stock dinegara kita, yang memproduksi DOC tingkat final stock guna menyuplai para peternak
Dilanjutkan kembali oleh Sudarmono (2003) bahwa, selain faktor-faktor pendukung keberhasilan perlu diwaspadai juga adanya kemungkinan timbulnya faktor-faktor penghambat keberhasilan usaha ternak ayam tersebut. Adanya faktor-faktor penghambat tersebut menyebabkan timbulnya permasalahan dan kendala yang memerlukan cara penanganan tersendiri. Beberapa macam permasalahan dan kendala yang mungkin timbul dan menghambat keberhasilan usaha ternak ayam ras petelur adalah sebagai berikut: 
  1. Resiko kematian,Bagaimana pun juga usaha bisnis ayam ras petelur merupakan bisnis yang mengandung resiko besar. Adanya sedikit saja kesalahan dalam pemeliharaan akan dapat menyebabkan terjadinya kematian, penyusutan, populasi,dan penurunan kemampuan memproduksi
  2. Fluktuasi harga, Walaupun dunia peternakan ayam ras petelur cukup memberikan harapan kepada peternak, karena peluang pasar produk ayam tersebut sangat menjanjikan, namun peternak juga sering digunakan adanya ketidak stabilan harga telur di pasaran, terjadinya fluktuasi harga telur dipasaran sangat sulit pula diambil tindakan antisipasi. Walaupun  kendala ini pada umumnya bersifat sementara, namun ternyata sangat berpengaruh pada peternak kecil dan peternak pemula.
  3. Musim yang tidak menguntungkan Negara kita yang terletak di daerah tropis, sering terjadi musim-musim yang kurang menguntungkan bagi ternak ayam ras petelur, terutama pada tahun-tahun kering yang berurutan. Terjadinya tahun-tahun kering yang berurutan menyebabkan tertundanya musim panen tanaman pangan, khususnya jagung dan hasil ikutan berupa katul. Jika ini terjadi, maka penyediaan bahan baku pakan jagung yang merupakan bagian terbesar dari ransum, menjadi sangat kurang atau langka. Hal ini menyebabkan harga ransum menjadi tinggi bahkan kadang peternak harus menghadapi dua faktor yang menghimpit usaha ternak ayamnya, yakni adanya kenaikan harga pakan dan terjadinya fluktuasi atau merosotnya harga telur.  

read more...

Wednesday, October 19, 2011

Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak ruminansia

Pemanfaatan Limbah Pertanian 
Limbah adalah sisa atau hasil ikutan dari produk utama limbah. Limbah pertanian adalah bagian tanaman pertanian diatas tanah atau bagian pucuk, batang yang tersisa setelah dipanen atau diambil hasil utamanya (Sutrisno,2002) dalam Sitorus (2002) dan merupakan pakan alternatif yang digunakan sebagai pakan, khususnya ruminansia (Widiyanto, 1993) dalam Sitorus (2002). Beberapa limbah pertanian yang potensial dan belum banyak dimanfaatkan secara optimal berturut-turut antara lain jerami padi, jerami jagung, pucuk tebu, jerami kedele, jerami ketela rambat dan jerami kacang tanah (Soejono et al., 1988; Van Bruchem dan Sutanto, 1988; Widiyanto, 1993; Pangestu,1995; Widyati et al., 1997) dalam Sitorus (2002)

Bahan baku pakan asal pertanian secara umum dapat dikelompokkan menjadi: Limbah pertanian dan limbah agroindustri. Bahan baku pakan yang termasuk limbah pertanian dan agroindustri disajikan pada Table 1 (Agustini, 2010).

Tabel 1. Bahan baku pakan asal limbah pertanian dan agroindustri

No
Limbah Pertanian
Limbah Agroindustri
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Jerami padi
Jerami jagung
Tumpi jagung
Jerami kedelai
Jerami kacang tanah
Jerami kacang hijau
Jerami komak
Kulit kacang tanah

Dedak padi
Ampas tahu
Ampas pabrik roti
Bungkil kelapa
Kedelai afkir
            Sumber :  Agustini (2010)

Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak ruminansia pada peternak masih rendah karena  rendahnya tingkat pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan disebabkan peternak  membakar limbah (jerami padi/jagung/ ubi jalar) setelah panen dimana limbah ini berfungsi sebagai pupuk organik di samping itu adanya anggapan dari peternak  bahwa hijauan pakan tersedia dalam jumlah yang mencukupi dilahan pekarangan, sawah dan kebun untuk kebutuhan ternak. Penelitian (Syamsu, 2007) dalam Liana & Febrina (2011) menunjukkan hanya 37.88% peternak di Sulawesi Selatan yang menggunakan limbah pertanian sebagai pakan.
 
Beberapa faktor yang menyebabkan peternak tidak menggunakan limbah tanaman pangan sebagai pakan adalah Liana & Febrina (2010) : a) umumnya petani membakar limbah tanaman pangan terutama jerami padi karena secepatnya akan dilakukan pengolahan tanah, b) limbah tanaman pangan bersifat kamba sehingga menyulitkan peternak untuk mengangkut dalam jumlah banyak untuk diberikan kepada ternak, dan umumnya lahan pertanian jauh dari pemukiman peternak sehingga membutuhkan biaya dalam pengangkutan, c) tidak tersedianya tempat penyimpanan limbah tanaman pangan, dan peternak tidak bersedia menyimpan/menumpuk limbah di sekitar rumah/kolong rumah karena takut akan bahaya kebakaran, d) peternak menganggap bahwa ketersediaan hijauan di lahan pekarangan, kebun, sawah masih mencukupi sebagai pakan ternak.

Di sentra-sentra penghasil padi, banyak jerami yang dibuang atau dibakar begitu saja setelah bulir-bulir padi dipanen. Padahal jerami tersebut setelah dikeringkan dan disimpan dengan baik digudang dapat dimanfaatkan untuk bahan pakan  ternak ruminansia andalan. Dengan memiliki persediaan jerami padi kering, peternak tak perlu lagi ngarit (mencari rumput) atau membeli hijauan segar untuk pakan sapi (Saswono & Arianto, 2006).

Selama ini hampir 50% jerami padi dibakar, abunya dikembalikan ke tanah sebagai kompos dan hanya 35% yang digunakan sebagai pakan ternak. Sistem integrasi ternak dengan tanaman pangan tidak hanya meningkatkan nilai tambah limbah pertanian yang dihasilkan, tetapi juga meningkatkan jumlah dan kualitas pupuk organik yang berasal dari ternak sehingga mampu memperbaiki kesuburan lahan (Maryono, 2010).

Tabel 2. Kandungan nutrisi pakan asal limbah pertanian
No
Bahan Pakan
BK
(%)

PK
(%)

LK
(%)

SK
(%)

TDN
(%)

1
Jerami padi
31,87
5,21
1,17
26,78
51,49
2
Kulit kedelai
90,37
18,96
1,25
22,83
62,72
3
Klobot jagung
42,56
3,40
2,55
23,32
66,41
4
Tongkol jagung
76,61
5,62
1,57
25,54
53,07
5
Jerami kacang tanah
29,08
11,31
3,32
16,62
64,51
6
Jerami kedelai
30,39
14,10
3,54
20,97
61,59
7
Jerami kacang hijau
21,93
15,32
3,59
26,90
55,52
8
Jerami kacang panjang
28,39
6,94
3,33
33,49
55,28
9
Jerami komak
16,20
24,71
3,85
21,03
68,29
10
Jerami kc.tunggak/antap
15,52
16,06
3,93
38,08
48,31
11
Jerami jagung segar
21,69
9,66
2,21
26,30
60,24
Sumber : (Hardiyanto, R 2004) dalam Agustini (2010)
Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa limbah pertanian memiliki kandungan serat kasar yang tinggi namun terdapat melimpah dialam sehingga perlu adanya pemanfaatan yang lebih lanjut dengan sentuhan teknologi menurut (Saswono & Arianto, 2006) bahwa hampir semua limbah pertanian tanaman pangan dapat dimanfaatkan untuk bahan pakan sapi. Walaupun hampir semua limbah pertanian itu mengandung serat kasar tinggi, tetapi dengan sentuhan teknologi sederhana limbah itu dapat diubah menjadi pakan bergizi dan sumber energi bagi ternak.

read more...

Berkenalan Dengan Ternak Sapi Potong

Tinjauan Umum Sapi Potong
 
Ternak sapi potong Indonesia memiliki arti yang sangat strategis, terutama dikaitkan dengan fungsinya sebagai penghasil daging, tenaga kerja, penghasil pupuk kandang, tabungan, atau sumber rekreasi. Arti yang lebih  utamanya adalah sebagai komoditas sumber pangan hewani yang bertujuan untuk mensejahterakan manusia, memenuhi kebutuhan selera konsumen dalam rangka meningkatkan kualitas hidup, dan mencerdaskan masyarakat (Santosa & Yogaswara, 2006)
 
Sapi potong merupakan salah satu ternak penghasil daging di Indonesia. Namun, produksi daging sapi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan karena populasi dan tingkat produktivitas ternak rendah (Isbandi 2004; Rosida 2006; Direktorat Jenderal Peternakan 2007; Syadzali 2007; Nurfitri 2008; Santi 2008). Rendahnya populasi sapi potong antara lain disebabkan sebagian besar ternak dipelihara oleh peternak berskala kecil dengan lahan dan modal terbatas (Kariyasa 2005; Mersyah 2005; Suwandi 2005).
 
Sapi potong merupakan salah satu komponen usaha yang cukup berperan dalam agribibisnis pedesaan, utamanya dalam sistem integrasi dengan subsektor pertanian lainnya, sebagai rantai biologis dan ekonomis sistem usahatani . Terkait dengan penyediaan pupuk, maka sapi dapat berfungsi sebagai "pabrik kompos" . Seekor sapi dapat menghasilkan kotoran sebanyak 8-10 kg/hari ; yang apabila diproses akan menjadi 4-5 kg pupuk organik (Haryanto et al. 1999) dalam Maryono (2010). Pengembangan sapi potong perlu mendapat perhatian serius mengingat permintaan daging belum dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Salah satu kendala dalam usaha ternak sapi potong adalah produktivitas ternak rendah karenapakan yang diberikan berkualitas rendah. Di sisi lain, potensi bahan baku pakan lokal seperti limbah pertanian dan perkebunan belum dimanfaatkan secara optimal, dan sebagian besar digunakan sebagai bahan bakar, pupuk organik atau bahan baku industri. Upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan sebagai pakan ternak dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas nutrisinya melalui fermentasi, suplementasi, dan pembuatan pakan lengkap. Diversifikasi pemanfaatan produk samping atau limbah agroindustri serta limbah pertanian dan perkebunan menjadi pakan telah mendorong berkembangnya agribisnis sapi potong secara integratif dalam suatu sistem produksi yang terpadu dengan pola ulang biomassa yang ramah lingkungan atau dikenal zero waste production system (Wahyono dan Hardianto 2004).
read more...